Garuda Sugardo Sebut PT INTI Jadi Pilar Kedaulatan Digital Indonesia, Ini Alasannya

Berita Lainnya

JAKARTA, infobdg.com – Kedaulatan digital Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan penggunaan teknologi. Penguatan industri manufaktur dan kemampuan memproduksi perangkat teknologi di dalam negeri menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Praktisi senior teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sekaligus Anggota Dewan TIK Nasional (Wantiknas), Garuda Sugardo, menegaskan bahwa kemandirian digital harus diwujudkan melalui keberpihakan terhadap industri teknologi nasional.

“Untuk mencapai kemandirian digital, kita harus bisa memproduksi perangkat keras, perangkat lunak, dan mencetak SDM Indonesia sendiri. Kuncinya adalah keberpihakan kepada industri dalam negeri,” kata Garuda dalam Seri Dialog XXIII bertajuk Kedaulatan Digital Indonesia: Realistis atau Utopis? di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta, Jumat (30/10).

Dalam forum tersebut, Garuda secara khusus menyoroti peran PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI sebagai salah satu perusahaan BUMN yang memiliki posisi strategis dalam pengembangan industri teknologi nasional.

Menurutnya, PT INTI merupakan bagian dari warisan industri strategis yang dibangun pada era Presiden ke-3 RI BJ Habibie. Perusahaan tersebut sebelumnya tergabung dalam Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) bersama PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT PAL Indonesia, dan PT Dahana.

Garuda menilai penguatan perusahaan-perusahaan tersebut diperlukan untuk membangun kemampuan Indonesia dalam menguasai teknologi, mulai dari perangkat keras hingga infrastruktur telekomunikasi.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan kedaulatan digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memproduksi teknologi, tetapi juga keamanan ruang digital. Ancaman seperti phishing, peretasan, stalking, perundungan, hingga penipuan digital masih menjadi persoalan yang perlu ditangani.

Karena itu, menurut Garuda, penguatan keamanan digital harus berjalan beriringan dengan upaya membangun kemandirian teknologi nasional.

Selain perangkat keras dan perangkat lunak, Garuda turut mendorong perusahaan telekomunikasi dan teknologi dalam negeri untuk mengembangkan platform berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“Tantangan untuk perusahaan telekomunikasi dan teknologi, buat platform Artificial Intelligence yang dapat digunakan oleh banyak customer,” ujarnya.

Pengembangan industri semikonduktor juga menjadi salah satu isu yang dibahas dalam dialog tersebut. Peluang kerja sama dengan perusahaan teknologi global serta perkembangan aktivitas industri semikonduktor di Batam dinilai dapat menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk memperkuat kapasitas teknologi dalam negeri.

Seri Dialog XXIII ini diinisiasi melalui kolaborasi Wantiknas, Forum Dialog Nusantara (FDN), dan Indonesia Digital Creative Industry Society. Kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, praktisi, serta pemangku kepentingan industri TIK untuk membahas langkah konkret mewujudkan kedaulatan digital.

Garuda menekankan, upaya tersebut membutuhkan sinergi pemerintah, BUMN, pelaku industri, perguruan tinggi, dan komunitas teknologi. Dengan kolaborasi lintas sektor, pengembangan teknologi nasional diharapkan tidak berhenti pada wacana, tetapi menghasilkan produk dan inovasi yang mampu bersaing.

Dalam konteks ini, PT INTI diharapkan dapat terus memperkuat kapasitas dan inovasinya agar berkontribusi dalam membangun ekosistem teknologi nasional.

Kedaulatan digital, pada akhirnya, bukan hanya soal kemampuan masyarakat menggunakan teknologi, melainkan juga kemampuan bangsa untuk memproduksi, mengembangkan, dan mengelola teknologi secara mandiri.***

Ikuti update artikel pilihan lainnya dari kami di WhatsApp Channel dan bergabung ke Komunitas WA Infobdg untuk berbagi informasi cepat