- Advertisement -

Nge-blues dengan Karinding

Berita Lainnya

- Advertisement -

Nama Mang Engkus cukup akrab di telinga orang-orang yang berkecimpung dalam kesenian tradisional Sunda, terutama Karinding. Keahliannya memainkan alat musik berbahan dasar bambu itu membuat mang Engkus mendapat sebutan Dewa Karinding.

read more from seputar-indonesia.com

Kini sudah lebih dari 7 tahun Mang Engkus memainkan Karinding. Uniknya, dia tak memainkannya dalam aliran Karinding yang sesungguhnya, namun dikolaborasikan dengan aliran musik blues. Cara itu ternyata diterima masyarakat yang membuat Karinding kini dikenal luas,terutama bagi masyarakat Jawa Barat.

Karinding yang diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun lalu kini kembali booming setelah sebelumnya sempat punah. Booming-nya Karinding ditandai dengan banyaknya pementasan kesenian Sunda yang menyertakan Karinding di dalamnya. Sekolah-sekolah pun kini memasukan kesenian Karinding sebagai kegiatan ekstrakurikuler, bahkan para pelaku seni kontemporer sepertinya tak ingin ketinggalan m e m a n – faatkan booming-nya Karinding.

Sebut saja Karinding Attack. Band yang memainkan aliran musik cadas menggunakan alat musik Karinding. Berikut petikan wawancara reporter harian Seputar Indonesia (SINDO), Agung Bakti Sarasa dengan lelaki bernama lengkap Engkus Kusnadi itu.

Bagaimana awal mula Anda mengenal alat musik Karinding?

Dalam sebuah upacara ritual yang digelar di Sumur Bandung,Kota Bandung sekitar 7 tahun lalu, saya melihat ada beberapa orang pemuda yang mengalungkan alat musik itu di lehernya. Saat dimainkan, saya langsung tergila- gila dengan alunan suaranya. Saya meminta dipertemukan dengan pembuatnya dan bertemulah saya dengan Bah Olot di Parakan Muncang, Kabupaten Sumedang. Saat si empu Karinding itu menjelaskan hal ihwal Karinding dan mengajarkannya, saya malah tambah tergila-gila.Sejak saat itu pula, saya bertekad akan terus bermain Karinding.

Saat ini Anda dikenal sebagai Dewa Karinding.Bagaimana sebutan itu bisa melekat pada nama Anda?

Sampai saat ini saya tidak pernah menyebut diri saya sebagai ahli Karinding, apalagi dewa. Itu sama saja melawan kehendakTuhan.Tapi,sebutan itu memang acap kali diungkapkan. Yang pasti, saat saya bulatkan tekad bermain Karinding dan bisa memainkannya, saya mencoba mengenalkannya ke masyarakat,khususnya masyarakat Jawa Barat. Saya berkeliling ke seluruh wilayah Jawa Barat dan membagi- bagikan Karinding ke berbagai komunitas. Karinding yang saat itu dibagikan dibuat Bah Olot, ada sekitar 100 Karinding yang dibagikan saat itu. Lambat laun, banyak orang mulai mengenal Karinding dan terbentuklah berbagai komunitas Karinding di Jawa Barat. Kini tidak hanya memainkan, banyak orang yang juga sudah mampu membuat Karinding.

Apa yang membuat Anda tergila-gila dengan Karinding?

Alunan suara yang keluar dari Karinding sangatlah menyentuh perasaan. Kalau ditilik- tilik, filosofi Karinding ngahudang ngageuing eling (membangunkan kesadaran). Orang yang mendengar alunan suara Karinding, terutama bagi orang Sunda, seakanakan merasa dibangunkan kesadarannya bahwasanya hidup ini hanyalah milik Tuhan dan tidak ada artinya dengan kesombongan. Selain filosofinya yang penuh makna, nada yang keluar dari Karinding pun sempurna. Karinding bisa dimainkan dengan berbagai tangga nada, baik diatonis ataupun pentatonis.Keistimewaan itu membuat kita bisa menyanyikan berbagai macam lagu mulai lagu tradisional hingga musik underground sekalipun.

Musik Karinding yang Anda mainkan katanya beraliran blues,mengapa?

Betul,aliran blues yang mewarnai musik Karinding yang saya mainkan sebenarnya terbentuk dengan sendirinya. Jika dalam aliran sesungguhnya musik Karinding itu dimainkan dengan nada yang ngebeat dan cepat, saya lebih memilih memainkannya dengan nada blues. Sengaja saya mengolaborasikan nada blues dalam Karinding agar musik Karinding bisa diterima masyarakat luas. Maka, jangan aneh jika saat ini banyak grup band yang mengolaborasikan Karinding pada lagu-lagunya.

Apa harapan yang ingin Anda wujudkan saat ini?

Saya sangat bersyukur Karinding kembali dikenal masyarakat. Padahal Karinding yang diperkirakan sudah ada sejak 600 tahun lalu itu sempat punah dan tidak lagi dimainkan. Alat musik yang kata orang tua dulu dimanfaatkan sebagai pengusir hama karena acap kali dimainkan di sawah, kini naik derajatnya dan diperdengarkan dalam pentas-pentas seni. Pemerintah kini melirik Karinding sebagai kesenian Sunda yang harus dilestarikan.Terbukti, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sudah memasukan Karinding dalam daftar kegiatan ekstrakurikuler di sekolah- sekolah.

Meski begitu, saya tentu masih sangat berharap lebih banyak lagi masyarakat yang mengenal Karinding. Tidak hanya di Jawa Barat, tapi Indonesia bahkan dunia.

sumber: seputar-indonesia.com

- Advertisement -
712,916FollowersFollow
2,523,395FollowersFollow
41,450SubscribersSubscribe
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisement -
- Advertisement -