BANDUNG, INFOBDG.com – Pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Bandung terus berlangsung di sejumlah titik. Namun, pengerjaan proyek tersebut mulai berdampak terhadap kelancaran lalu lintas, salah satunya di Jalan Jakarta.
Berdasarkan pantauan pada Kamis (20/8/2026), pembangunan halte BRT di Jalan Jakarta berlangsung di depan Rutan Kebon Waru. Saat ini, pengerjaan terpantau masih berada pada tahap pemadatan tanah.
Area proyek dibatasi menggunakan water barrier yang dipasang sekitar dua meter dari trotoar. Kondisi tersebut membuat lebar badan jalan menjadi lebih sempit sehingga berpotensi menimbulkan kepadatan lalu lintas.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan dirinya akan meninjau langsung sejumlah lokasi pembangunan halte BRT untuk melihat dampaknya terhadap lalu lintas.
“Pembangunan BRT saya akan tinjau hari ini. Saya akan keliling untuk melihat efek pembangunan BRT,” ujar Farhan, dilansir dari Tribun Jabar, Kamis (20/8/2026).
Farhan mengaku telah menerima informasi mengenai kemacetan yang muncul akibat pembangunan halte tersebut. Karena itu, ia merasa perlu turun langsung untuk melihat kondisi di lapangan.
“Karena kemarin agak terlalu adem kayaknya, siga nu euweuh nanaon pembangunan teh. Tapi begitu semalam saya dengar ternyata menimbulkan kemacetan, nah saya baru akan turun,” katanya.
Menurut data Dinas Perhubungan Kota Bandung, halte BRT on corridor nantinya dibangun di 37 titik. Halte tersebut menggunakan konsep jalur terpisah dengan separator, menyerupai sistem busway.
Sementara itu, halte BRT off corridor akan dibangun di 256 titik di wilayah Bandung Raya. Sebanyak 232 titik berada di Kota Bandung dan 24 titik lainnya berada di Kota Cimahi.
Farhan mengatakan pembangunan separator untuk jalur khusus BRT perlu menjadi perhatian karena dapat mengurangi lebar ruas jalan.
“Nanti saya akan lihat dulu bagaimana prosesnya karena nanti dampaknya akan makin lama makin bertambah, terutama dengan pembangunan pemisah atau separator. Khusus untuk bus, itu kan mempersempit jalan,” ucapnya.
Sejumlah ruas jalan yang direncanakan memiliki jalur khusus BRT dengan separator antara lain Jalan Jakarta, Jalan Ahmad Yani, Jalan Asia Afrika, Jalan Sudirman, Jalan Rajawali, Jalan Otista, Jalan Muhammad Toha, hingga kawasan Alun-alun Bandung.
Dengan adanya separator tersebut, ruas-ruas jalan tersebut diperkirakan akan mengalami penyempitan.
“Nah, itu makanya saya sedang pelajari dulu bagaimana dampaknya. Kalau dengan BRT kita melakukan komunikasi terus, ya. Jangan sampai nanti saya merasa kecolongan, saya ngamuk deui di jalanan, hoream akan saya awasi langsung sekarang ke lapangan,” ujarnya.
Pemkot Bandung kini akan melihat lebih lanjut dampak pembangunan BRT terhadap lalu lintas sebelum proyek memasuki tahapan berikutnya.

